Referensi pihak ketiga
Dalam sejarah Islam, hoax mulai berkembang sejak tahun 41 H. Pra, 1 sampai tahun 41 hijriyah menurut para ulama disebut العصر التي نقئ فيها الشريعة, era kesucian syariat. Tentu masih bisa kita teliti akurasi tahunnya.
Namun para ulama sepakat, pemicu utama hoax pada abad awal hijriyah adalah peristiwa politik. Apa definisi hoax? Menurut ulama hoax adalah المكذوب المختلق المصنوع, dusta yang sengaja dibuat, diciptakan.
Hoax pertama isinya black champaign, antara pendukung dua tokoh. Irak mendukung Imam Ali, oknum-oknumnya membuat hoax, berupa hadis palsu seakan-akan Rasulullah saw mengecam kepada Muawiyah. Sebaliknya pendukung Muawiyah di Syam menyebar hoax tentang kecaman Rasulullah saw kepada penduduk Irak.
Setelah Muawiyah berkuasa, semakin masif. Hoax yang berisi sanjungan kepada Muawiyah, dan kecaman kepada Imam Ali. Misalnya ada hoax seperti ini,
ألأمناء عند الله ثلاثة : أنا وجبريل ومعاوية.
Rasulullah saw bersabda, "Kepercayaan Allah (dibumi) ada tiga, Aku, Jibril dan Muawiyah."
Pujian-pujian yang menyanjung Muawiyah bertebaran, jumlahnya banyak sekali. Sementara serangan terhadap Imam Ali, persis seperti pembunuhan karakter yang dilakukan Orde Baru terhadap Soekarno.
Bahkan lebih keji, Imam Ali dikutuk tiap khutbah Jumat selama puluhan tahun, dan peninggalan intelektualnya dibakar dibabad habis. Murid-muridnya seperti Muhammad bin Abu Bakar Shidiq dibunuh. Dibakar hidup-hidup didalam perut unta.
Kita lebih mengenal fikih Umar yang hidup 4 tahun pasca wafatnya Rasulullah saw, atau riwayat-riwayatnya Abu Hurairah yang menyertai Rasulullah saw 3 tahun. Daripada Imam Ali yang hidup bersama Nabi saw puluhan tahun, dan hidup 3 dekade lebih setelah Rasulullah saw wafat. Soal ini, bisa dilihat lebih lengkap dalam kitab Ghayatu Tabjil.
Salah satu ulama yang menentang keras Hoax yang mengunggulkan Muawiyah dan merendahkan yang lain adalah Imam Nasa'i Rahimahulllah. Ketika beliau ke Damaskus ibukota Imperium yang dipimpin Muawiyah, beliau ditanya tentang hadis Nabi saw yang mengisahkan keutamaan Muawiyah.
Imam Nasa'i menjawab, " saya tidak menemukan keutamaan Muawiyah selain hadis; لا اشبع الله بطنك
Yaitu hadis riwayat Imam Muslim, yang mengisahkan Rasulullah saw menyuruh Sahabat Ibnu Abbas yang masih kecil, sedang bermain dengan kawan-kawannya, untuk memanggil Muawiyah. Dua kali di panggil, Ibn Abas melaporkan pada Rasulullah, هو يأكل, Muawiyah sedang makan.
Setelah dua kali dipanggil selalu sedang makan, Rasulullah saw dawuh, لا اشبع الله بطنك
Allah tidak akan membuat perutmu kenyang.
Mendengar Imam Nasai menyitir hadis Muslim tersebut, pendukung Muawiyah mempersekusi Imam Nasa'i sampai wafat. Maulana Habib Luthfi sering bercerita penyiksaan yang dialami Imam Nasai ini. Tapi saya baru menemukan langsung teksnya;
وذهب النسائ صاحب السنن الى دمشق فسالوه عن معاوي وما روي فى فضائله الى ان قال فما زالوا يدفعون فى حضنه وداسوه حتى حمل الى الرملة ومات هناك.
Kata Ibn Khaldun, dalam muqadimahnya, Bangsa Arab tanpa politisasi Agama, atau berpolitik tanpa agama akan mandul, karena tribalisme kesukuan mereka yang kuat. Ego qaba'il ini hanya bisa cair dengan bumbu agama.
Politik semacam ini berbahaya jika digunakan di negara kita, yang memiliki 17000 pulau, ribuan suku, atusan bahasa, beragam budaya.
Ahmad Tsauri
Pekalongan, 12 Maret 2019








0 comments:
Post a Comment