ASWAJA Menurut NU

KH. Hasyim Asy’ari merupakan simbol ulama besar yang berpengaruh di Jawa Timur bahkan di Nusantara. - umatnahdhiyyin.blogspot.com.

KH. Hasyim Asy'ari : Perjalanan Dan Karyanya

KH. Hayim Asy'ari merupakan tokoh besar umat Nahdhiyyin. Lahir dan tumbuh di keluarga pesantren.

Kekuatan Penyeimbang Itu Bernama NU

NU telah menjadi kekuatan penyeimbang antara Bung Karno dengan Republiknya dan SM KArtosuwiryo dengan Darul Islamnya - Premiumbloggertemplates.com.

Hukum Mengubur Jenazah Korban Bencana

Berikut merupakan pandangan ulama' mengenai hukum memakamkan jenazah pada korban bencana alam - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, August 8, 2019

Deklarasi Makkah

DEKLARASI MAKKAH
Makkah Al Mukarramah, 07 Dzul Hijjah 1440 H / 8 Agustus 2019 M.


Bismillahirrahmanirrahim

Dengan mengharap ridha Allah SWT serta dengan selalu bertawakkal kepadaNya bertempat di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah serta di waktu yang sakral menjelang wukuf di Padang Arafah, kami warga Nahdliyyin seluruh dunia berikrar :


  1. Berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah An Nahdliyyah baik secara fikrah dan amaliyah maupun secara manhajiyah dan harakah.
  2. Mempererat tali Ukhuwah lslamiyah, Ukhuwah Wathaniyah maupun Ukhuwah Basyariyah sesuai dengan misi Islam rahmatan Iil ’alamin.
  3. Siap mempertahankan empat pilar negara Indonesia; Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45. Oleh karena itu berbagai upaya untuk merongrong dasar dan falsafah negara harus ditolak.
  4. Menumbuhkan sikap toleransi dan moderasi dalam semua aspek kehidupan serta menolak berbagai bentuk kekerasan, intoleransi dan diskriminasi.
  5. Mendukung teciptanya perdamaian dunia berdasarkan asas keadilan dan kemanusiaan.
Mudah-mudahan Allah SWT meridhai bangsa dan negara Indonesia menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, Amiin.


Share:

Wednesday, August 7, 2019

Mbah Moen Yang Saya Kenal

Oleh: Syaikhul Islam Ali

Subuh pagi tadi mungkin akan jadi subuh yang sulit dilupakan dalam hidup saya. Saat bangun agak terlambat sekitar pukul 04.00 waktu Saudi. Entah kenapa saat terjaga saya reflek bicara sendiri dengan sedikit teriak: "Mbah Moen itu haji setiap tahun seperti sahabat Abdullah ibnu Umar" hingga seluruh isi kamar ikut bangun. Ya mungkin karena semalam sebelum tidur saya kepikiran isi buku Kiai Ali Musttafa "Haji Pengabdi Setan" yang isinya mengkritik orang yang setiap tahun berhaji dan tidak punya kepedulian sosial. Semuanya tampak biasa saja sebelum saya pergi ke kamar mandi dan berita wafatnya Mbah Moen mulai bersliweran di WAG. MasyaAllah....lutut ini rasanya lemas, antara percaya dan tidak, kiai yang saya idolakan sejak kecil itu benar wafat? tak lama WA dari ayah saya masuk, isinya suruh cepat ke RS membantu sebisanya, saya lekas berangkat meski tahu disana saya pasti tidak bisa bantu apa-apa. Syukurlah saat sampai sudah banyak orang yang membantu termasuk kolega saya di DPR RI yang lama tinggal di Mekkah H. Mukhlisin dan Pak Lukman Menteri Agama.

Mbah Moen adalah satu diantara sedikit kiai yang saya kenal sejak kecil. Kiai yang selalu semangat bercerita bahwa keluarga kami adalah kerabatnya dan memanggil ayah saya dengan sebutan paklik walaupun usianya jauh lebih tua. Keluarga kami di Sidoarjo dan Keluarga Mbah Moen di Sarang memang punya leluhur yang sama yaitu Mbah Muhdlor dan Mbah Syamsiyah. Saat saya SD di awal 90-an Mbah Moen sering hadir ceramah di acara haul Mbah Muhdlor. Dan bagian cerita Mbah Moen yang paling saya suka; Mbah Muhdlor setiap Jum'at pergi jum'atan ke Makkah hanya naik sampan. Jadi wajar kalau Mbah Moen suka pergi ke Makkah untuk Haji lha wong mbah nya saja pergi ke Makkah setiap jumat.

Mayoritas santri  Jatim-Jateng adalah pengagum Mbah Moen karena keluasan ilmunya yang masyhur, tak terkecuali ayah saya. Siapa sih yang tidak ingin anaknya dididik oleh kiai yang ahli tafsir, fikih, hadis, nahwu-shorof sekaligus seorang sufi seperti Mbah Moen. Di awal 90 an kali Mbah Moen ke Sidoarjo ayah saya selalu ditanya siapa anaknya yang mau mondok di Sarang, tapi ayah saya tidak menjawab karena anaknya masih kecil-kecil, lebih-lebih kalau ingat susahnya santri di Sarang yang untuk mandi-cuci harus naik bus. Waktu berjalan dan takdir bicara saya tidak pernah mondok di Mbah Moen, tapi saya berharap tetap dicatat sebagai santri beliau meskipun hanya
1-2 kali pernah ngaji tafsir Jalalain hari minggu.

Saya percaya bahwa  Mbah Moen ini adalah ulama yang thariqah utamanya adalah ngaji dan mendidik santri (ta'lim wa ta'allum), meskipun saya pernah mendengar beliau ambil wirid thariqah Qadiriyah-Naqsyabandiyah dari Mbah Romli Tamim, khabar lain mengatakan beliau juga mengambil ijazah wirid thariqah dari masyayikh berbagai thariqah di Mekkah, Mesir dan Syria. Tapi yang perlu digaris bawahi yang menjadi suluk beliau sehari-hari ya mengajar dan mendidik santri dan itulah thariqah yang utama sedangkan wirid-wirid itu hanya membantu saja. Soal pentingnya ngaji ini saya punya pengalaman khusus dengan beliau. Suatu hari kira-kira tahun 2012 an beliau mendatangi acara di pondok kami di Lebo Sidoarjo, beliau singgah di gedung sekolah pondok yang baru yang kata orang mewah, beliau bilang ke saya dan kakak saya: "yang penting tidak lupa mabda'nya tujuannya.." Saya faham yang dimaksud adalah ngaji, karena sedang musim banyak pondok punya fasilitas sekolah bagus tapi ngajinya kalah. Selain itu mungkin karena Mbah Moen adalah saksi hidup pondok Lebo lama peninggalan Mbah Muhdlor yang sederhana, beliau pernah cerita pondoknya angkringan bambu di dekat sungai yang kalau musim banjir tidak bisa ditempati, tapi santrinya rajin-rajin mengaji.

Selain kegigihan beliau mendidik santri dan menyebarkan ilmu, hal lain yang menonjol dari Mbah Moen  tenti saja politik. Beliau tercatat pernah jadi anggota DPR, MPR, menjadi fungsionaris partai dan aktif sebagai jurkam di era pemilu tertutup. Saya tidak tahu apa Mbah Moen pendukung Imam Ghazali dalam statemennya yang terkenal: agama dan politik adalah saudara kembar, tapi memang biasanya seorang tokoh agama yang berpengaruh tidak bisa lepas dari tanggung jawab politik, sebagaimna  tokoh politik yang kuat dan mengakar biasanya punya cantolan anasir agama. Jadi tidak heran kalau beliau sampai usia sepuhnya masih aktif mengikuti perkembangan bahkan mungkin terlibat dalam politik. Soal keaktifan beliau di politik ini saya punya prngalaman manis dengan beliau yaitu pada 1 Oktober 2014 saat pelantikan anggota DPR RI beliau datang sebagai undangan, saya sungkem dan memperkenalkan diri, beliau melihat saya sambil berkata: apik cung, sayange kok ora songko PPP (baik nak sayangnya kok tidak dari PPP) disusul senyum karena beliau tahu saya pasti dari PKB. Meskipun demikian tentu saja itu adalah energi positif buat saya sebelum mengambil sumpah dan janji sebagai anggota DPR RI.

Banyak orang percaya Mbah Moen adalah seorang kekasih Allah sejak muda, terutama karena yang menyatakan itu pertama kali adalah Mbah Hamid Pasuruan yang masyhur bil wilayah mengatakan Mbah Moen sebagai waliyyun min awliyaillah (seorang kekasih diantara kekasih-kekasih Allah) atau dalam kesempatan lain mengatakan kiai Maimoen wali nom (kiai maimoen wali muda). Saya sendiri yakin sekali dengan hal itu dan lebih mantap lagi ketika mengantar guru saya Syaikh Yusri Jabr al-Hasani  mengunjungi Mbah Moen di Sarang dan setelah itu beliau mengatakan Kiai Maimoen min ahl haqoiq (Kiai Maimoen termasuk ahli hakikat). Memang tidak banyak cerita karomah Mbah Moen selain keistiqomahan dan keluasan samudra ilmunya. Meminjam istilah ayah saya itu: kewaliane ketutupan karo kekiaiane (kewaliannnya tertutup keulamannya) maksudnya adalah karomahmya sebagai wali tidak muncul karena Allah lebih suka melihat beliau bermanfaat untuk umat dengan ilmunya. Sebagaiman Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang semasa hidup masyhur sebagai ulama' dan setelah wafat disepakati sebagai awliya'. Tetapi kemarin di hari beliau wafat Allah nyata-nyata menunjukkan Mbah Moen adalah kekasihnya yang sesungguhnya. Saya belum bisa membayangkan akan ada orang yang jenazahnya disholati dan didoakan seperti Mbah Moen di kemudian hari. Entah berapa juta manusia yang mensholati jenazah Mbah Moen di Mekkah dan berapa juta orang yang sholat ghoib untuk beliau di Indonesia.

Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik. Memantaskan kita untuk meneruskan perjuangannya dan mengumpulkan kita kelak dengannya bersama Rasulullah SAW. Amin

Syaikhul islam Ali
Bumi Shalawat
Mekkah 6 Agustus 2019
Share:

Tuesday, August 6, 2019

Sayyid Ashim bin Abbas bin Alawi Al-Maliki Memimpin Pemakaman Mbah Moen Zubair

Sayyid Ashim bin Abbas bin Alawi Al-Maliki Memimpin Pemakaman Mbah Moen Zubair


Ulama terkemuka Makkah, dan Imam Masjidil Haram, Sayyid Ashim bin Abbas bin Alawi al-Maliki, memimpin talqin dan doa dalam prosesi pemakaman K.H Maimoen Zubair (Mbah Moen), Selasa (6 Agustus 2019) di Jannatul Ma'la, Makkah Al-Mukarramah.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Daker Mekah, Subhan Cholid, yang bertanggungjawab terhadap para WNI di Makkah. Asyrofi, seorang petugas haji yang mendampingi Mbah Moen, sejak di Rumah Sakit, hingga ke pemakaman. Jamaah lain juga mengirimkan  video prosesi pemakaman Mbah Moen.
Dalam video itu tampak ribuan jamaah haji juga mengiringi jenazah Mbah Moen dari Masjidil Haram menuju komplek Ma'la.
"Yang memimpin doa adalah
 putera dari Sayyid Abbas bin Alawi al-Maliki, yang mendapat gelar Bulbul Makkah, dan keponakan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang punya banyak murid dari Indonesia," Ujar  Kepala Kantor Daker Makkah, Subhan Cholid. Menurut Subhan, sebelum dimakamkan, jenazah Mbah Moen juga mendapat penghormatan, dishalatkan di Masjidil Haram oleh jutaan jama'ah haji.
"Prosesi pemakaman Mbah Moen ini, dari awal hingga akhir dipimpin oleh Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Syaifuddin dan Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh," ujarnya.

Dalam video lain yang sempat viral, Habib Rizieq Shihab juga tampak hadir berada di tengah kerumunan warga. Bahkan, tanpa rasa takut, tiba-tiba mengencangkan suaranya dan berdoa untuk Mbah Moen.
"Jadi Habib Rizieq membaca doa di tengah kerumunan itu, ya sama saja dengan jamaah lain yang juga turut mendoakan. Bukan dia yang mimpin doa dan prosesi pemakaman," ujar Subhan. (Malik)
Share:

Sunday, July 28, 2019

Ketika Doa Syaikh Nawawi Menggemparkan Negeri Hijaz


Ketika Doa Syaikh Nawawi Al-Bantani Menggemparkan Hijaz

Ketika dahulu kala di Wilayah Arab sedang dilanda kekeringan yang teramat panjang. Raja Hijaz mengumpulkan dan membawa para ulama Makkah dan Madinah untuk mengatasi permasalahan kemarau berkepanjangan tersebut. Mereka diminta berdoa di depan Ka’bah agar segera diturunkan hujan.

Setelah semua sarjana dan para ulama berdoa, hujan tidak kunjung turun juga, malah menjadi lebih panas selama beberapa bulan. Membuat penduduk di negeri itu semakin susah.

Dalam kekalutanya Raja Hijaz tiba-tiba teringat akan seorang sarjana yang tidak diundang untuk berdoa.

Kemudian Sang Raja memerintahkan bawahanya untuk memanggil Sarjana tersebut.

Sang sarjana diberitahu, setelah bertemu, penampilan cendekiawan itu pendek, kecil dan kulitnya hitam.

Sarjana itu adalah Syekh Nawawi bin Umar Tanara al-Bantani al-Jawi. ia adalah seorang ahli bahasa Arab dan memiliki karya lebih dari 40 judul, semuanya berbahasa Arab.

Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut berangkat berdoa meminta hujan kepada Allah SWT di depan Ka’bah.

Anehnya, meski Syaikh Nawawi Banten mampu berbahasa Arab dengan fasih, di depan Ka’bah beliau berdoa meminta hujan dengan memakai bahasa Jawa.

Para ulama Makkah dan Madinah yang berdiri di belakangnya menyadongkan tangan sambil berkata “aamiin”.

Mbah Nawawi berdoa:

“Ya Allah, sampun dangu mboten jawah, kawulo nyuwun jawah.”

(Ya Allah, sudah lama tidak turun hujan, hamba minta hujan)

Seketika itu juga mendung datang dan kemudian hujan turun dengan lebat. Semua yang menyaksikan kejadian itu pun heran. Ada beberapa orang bertanya, bahasa apa yang telah digunakan syaikh Nawawi berdoa, karena mereka tidak pernah mendengar bahasa itu sedangkan sebelumnya para ulama dan sarjana Negeri itu telah berdoa dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih namun tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justru ampuh.

Yang menentukan Mujarabnya doa adalah kualitas individu seseorang, bukan bahasa yang digunakan.

Karena Allah Maha Mengetahui walau hanya sekedar bahasa Daerah. tak perlu susah payah mencari yang samar keberadaannya.

Mengenai doa dengan bahasa daerah,

KH. Idris Marzuqi Lirboyo pernah menyampaikan:

“Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazahi dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”

(Kamu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidir.

Nabi Khidir jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura).

Wallahu'alam

Share:

Sunday, March 24, 2019

Abbas dan Sang Kiai Hadratussyaikh Khalil Bangkalan

Suatu ketika ada seorang anak kecil kira² berumur 9 tahun pergi nyantri ke Hadratussyekh KH. Kholil Bangkalan Madura.
Melihat keadaan bocah kecil ini Kyai Kholil tidak langsung mengajar ngaji karena khawatir tidak kerasan. Sambil menunggu si bocah merasa betah, Kyai Kholil memberi tugas pada si santri kecil ini untuk membersihkan daun mangga yang jatuh dari pohonnya di depan ndalem Kyai Kholil.

Si bocah ini menjalankan perintah gurunya dengan senang hati.
Pada suatu malam turunlah hujan begitu lebat, Kyai Kholil keluar dan duduk di teras rumah. Dilihatnya ada seorang anak yang tetap berhujan-hujanan di bawah pohon mangga menjaga daun mangga yang jatuh ke tanah untuk langsung dibersihkan.
Seketika itu Kyai Kholil memanggil anak tersebut, betapa kagetnya Kyai Kholil ternyata dia adalah anak kecil yang diberi tugas membersihkan daun mangga bila ada yang jatuh dari pohonnya itu.

Melihat kejadian tersebut Kyai Kholil berkata kepada si kecil yang bernama Abbas itu,
"Wahai Abbas sekalipun engkau masih kecil belia tapi engkau memiliki ketaatan sungguh² kepada guru. Oleh karena itu cukup untuk kamu ngaji di sini sekarang."
Kyai Kholil bertakbir keras, "Allâhu Akbar... Allâhumma sholli 'alâ Sayyidinâ Muhammad. Pulang...!! Mengajar...!! Ilmunya ditanggung Kholil...!!"
Seketika itu pula Kyai Kholil meminta Abbas kecil menengadah ke langit dengan membuka mulut dan Kyai Kholil meludahi mulut Abbas kecil, maka pulanglah Abbas kecil dengan derai air mata karena tak kuasa meninggalkan guru yang dicintai dengan amanah yang dibanggakannya.

Subhânallah... Jadilah Abbas seorang kyai besar berpengaruh di Banyuwangi dengan santri yang luar biasa hingga sekarang.
'Mencari ridlo Guru' itulah rahasia besar kesuksesan ulama terdahulu, yang makin terlupakan sekarang.
Di samping keikhlasan sang guru itu sendiri tentunya yang juga makin jarang kita temukan sekarang.
Share:

Thursday, March 14, 2019

HOAX DALAM SEJARAH ISLAM

Referensi pihak ketiga

Dalam sejarah Islam, hoax mulai berkembang sejak tahun 41 H. Pra, 1 sampai tahun 41 hijriyah menurut para ulama disebut العصر التي نقئ فيها الشريعة, era kesucian syariat. Tentu masih bisa kita teliti akurasi tahunnya.

Namun para ulama sepakat, pemicu utama hoax pada abad awal hijriyah adalah peristiwa politik. Apa definisi hoax? Menurut ulama hoax adalah المكذوب المختلق المصنوع, dusta yang sengaja dibuat, diciptakan.

Hoax pertama isinya black champaign, antara pendukung dua tokoh. Irak mendukung Imam Ali, oknum-oknumnya membuat hoax, berupa hadis palsu seakan-akan Rasulullah saw mengecam kepada Muawiyah. Sebaliknya pendukung Muawiyah di Syam menyebar hoax tentang kecaman Rasulullah saw kepada penduduk Irak.

Setelah Muawiyah berkuasa, semakin masif. Hoax yang berisi sanjungan kepada Muawiyah, dan kecaman kepada Imam Ali. Misalnya ada hoax seperti ini,

ألأمناء عند الله ثلاثة : أنا وجبريل ومعاوية.
Rasulullah saw bersabda, "Kepercayaan Allah (dibumi) ada tiga, Aku, Jibril dan Muawiyah."

Pujian-pujian yang menyanjung Muawiyah  bertebaran, jumlahnya banyak sekali. Sementara serangan terhadap Imam Ali, persis seperti pembunuhan karakter yang dilakukan Orde Baru terhadap Soekarno.

Bahkan lebih keji, Imam Ali dikutuk tiap khutbah Jumat selama puluhan tahun, dan peninggalan intelektualnya dibakar dibabad habis. Murid-muridnya seperti Muhammad bin Abu Bakar Shidiq dibunuh. Dibakar hidup-hidup didalam perut unta.

Kita lebih mengenal fikih Umar yang hidup 4 tahun pasca wafatnya Rasulullah saw, atau riwayat-riwayatnya Abu Hurairah yang menyertai Rasulullah saw 3 tahun. Daripada Imam Ali yang hidup bersama Nabi saw puluhan tahun, dan hidup 3 dekade lebih setelah Rasulullah saw wafat. Soal ini, bisa dilihat lebih lengkap dalam kitab Ghayatu Tabjil.

Salah satu ulama yang menentang keras Hoax yang mengunggulkan Muawiyah dan merendahkan yang lain adalah Imam Nasa'i Rahimahulllah. Ketika beliau ke Damaskus ibukota Imperium yang dipimpin Muawiyah, beliau ditanya tentang hadis Nabi saw yang mengisahkan keutamaan Muawiyah.

Imam Nasa'i menjawab, " saya tidak menemukan keutamaan Muawiyah selain hadis; لا اشبع الله بطنك

Yaitu hadis riwayat Imam Muslim, yang mengisahkan Rasulullah saw menyuruh Sahabat Ibnu Abbas yang masih kecil, sedang bermain dengan kawan-kawannya, untuk memanggil Muawiyah. Dua kali di panggil, Ibn Abas melaporkan pada Rasulullah, هو يأكل, Muawiyah sedang makan.

Setelah dua kali dipanggil selalu sedang makan, Rasulullah saw dawuh, لا اشبع الله بطنك
Allah tidak akan membuat perutmu kenyang.

Mendengar Imam Nasai menyitir hadis Muslim tersebut, pendukung Muawiyah mempersekusi Imam Nasa'i sampai wafat. Maulana Habib Luthfi sering bercerita penyiksaan yang dialami Imam Nasai ini. Tapi saya baru menemukan langsung teksnya;

وذهب النسائ صاحب السنن الى دمشق فسالوه عن معاوي وما روي فى فضائله الى ان قال فما زالوا يدفعون فى حضنه وداسوه حتى حمل الى الرملة ومات هناك.

Kata Ibn Khaldun, dalam muqadimahnya, Bangsa Arab tanpa politisasi Agama, atau berpolitik tanpa agama akan mandul, karena tribalisme kesukuan mereka yang kuat. Ego qaba'il ini hanya bisa cair dengan bumbu agama.

Politik semacam ini berbahaya jika digunakan di negara kita, yang memiliki 17000 pulau, ribuan suku, atusan bahasa, beragam budaya.

Ahmad Tsauri
Pekalongan, 12 Maret 2019
Share:

Monday, March 11, 2019

HABIB LUTHFI BIN YAHYA Tentang NU




HABIB LUTHFI BIN YAHYA Referensi pihak ketiga

Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU. Padahal negara muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun.

Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Tragisnya, bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU.

Tidak dipungkiri gagasan “Islam Nusantara” bisa menjadi magnet besar dalam membangun besarnya kekuatan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan oleh media-media pembenci NU, itu dijadikan lahan untuk menghancurkan NU dari dalam seolah-olah NU telah diboncengi oleh Liberal, Syiah, dan Wahabi. Padahal telah jelas dan disepakati oleh ribuan ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren serta majelis ta’lim di seluruh Indonesia bahwa tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang adalah “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin.

Cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia dan negara-negara muslim yang menjadi sasaran konflik antarumat Islam karena tidak adanya persatuan diantara mereka.

Kita tidak menginginkan Indonesia seperti mereka, berapa juta umat Islam yang mati mengenaskan akibat konflik di negara-negara tersebut ?

Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita walisongo. Islam nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab.

Saat ini istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya.

Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.
Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasuth (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik.

Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun.

Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Syuriah PBNU Pusat menjelaskan, “Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

Beliau melanjutkan, “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik,. Kalau saja wali songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini”.

Beliau berpesan bahwa inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini, itulah mengapa dalam setiap ceramah beliau akhir-akhir ini sering membahas tentang upaya mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.

Indonesia itu menurut beliau, tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia, “Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk".

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.

“Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkrit. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.

Rais Am Syuriah PBNU Pusat Dr. HC. KH. Ahmad Musthofa Bisri menjelaskan, “Kalau Islam diidentikkan dengan Arab, Abu Jahal juga orang Arab, dia memakai sorban dan jubah. tentu ketika kita memakai jubah dan sorban semata mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bukan mengikuti budaya Arab".

Lebih lanjut Mustasyar PBNU Pusat Syaikhuna wa Murobbi Rukhina KH. Maimun Zubair menjelaskan. “Bangsa Arab itu mulia karena adanya Islam, maka Indonesia pun akan mulia dengan adanya Islam”.

Saat ini negara-negara Muslim di dunia sedang melirik Islam di Indonesia, mereka manyatakan diri perlu belajar banyak dari Indonesia, bagaimana bisa negara besar dengan berbagai suku, agama, ras, adat istiadat bisa damai dan tentram tanpa ada konflik horizontal berkepanjangan ?

Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman.


Share:

Support

Flag Counter