KH. Hasyim Asy’ari: Perjalanan dan Karyanya
Biografi KH. Hasyim Asy’ari
1. Nasab
Hasyim
Asy‟ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim bin Asy‟ari bin Abdul Wahid bin
Abdul Halim yang mendapat julukan Pangeran Bona bin Abdul Rahman yang mendapat
julukan Jaka Tingkir, Sultan Hadi Wijaya bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul
Fattah bin Maulana Ishaq dari Raden Ainul Yaqin yang terkenal dengan sebutan
Sunan Giri.[1]
Berdasarkan
silsilahnya, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin), KH. Hasyim Asy’ari
memiliki garis keturunan yang jika dirunut akan sampai dengan Rasulullah SAW dengan
urutannya sebagaimana berikut :
a. Sunan giri (Raden Ainul Yaqin)
b. Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
c. Abdul Halim (pangeran Benawa)
d. Abdurohman (pangeran samhud bagda)
e. Abdul Halim
f. Abdul Wahid
g. Abu Sarwan
h. KH. Asy’ari
i. KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)[2]
KH.
Hasyim Asy’ari lahir di desa Gedang (Kecamatan Diwek), sebuah desa yang berjarak sekitar dua
kilometer sebelah timur Jombang, pada 24 Zulkaidah 1287 H/14 Februari
1871, dan wafat di Jombang pada Juli 1947.[3]
Secara genealogi, KH. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan kyai atau lahir dari
keluarga pesantren, dari kakek buyutnya, kakeknya juga ayahnya adalah adalah
keluarga pesantren.
Asy’ari merupakan nama ayahnya yang berasal dari Demak dan juga pendiri
pesantren keras di Jombang.[4] Sedangkan ibunya Halimah merupakan putri Kiai Usman
pendiri dan pengasuh dari pesantren Gedang akhir abad ke-19 M. K.H Hasyim Asy’ari
adalah anak ketiga dari sesepuh bersaudara yaitu Nafi’ah, Ahmad Sholeh, Radi’ah,
Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Beliau merupakan
seorang Kyai keturunan bangsawan Majapahit dan juga keturunan “elit” Jawa.
Selain itu, moyangnya, Kiai Sihah adalah pendiri Pesantren tambak beras
Jombang. Ia banyak menyerap ilmu agama dari lingkungan pesantren keluarganya.
Adapun Ibu KH. Hasyim Asy’ari, merupakan anak pertama dari lima bersaudara,
yaitu Muhammad, Leler, Fadil, dan nyonya Arif.[5]
2. Pendidikan
Masa kecil Hasyim Asy’ari tidak jauh berbeda dengan layaknya anak-anak lainnya
tumbuh dan berkembang, hanya saja yang membedakannya dengan usia anak-lainnya yaitu
lingkungan dimana ia tumbuh. Ia tumbuh di lingkungan pesantren (Gedang) yang
diasuh oleh kakeknya sendiri (kiai Usman). Beliau diasuh di pesantren tersebut selama
kurang lebih antara usia 1 (satu) hingga 5 (lima) tahun. Pada tahun 1876 M
bertepatan pada usianya yang ke 6 tahun, ia dibawa ayahnya (kiai Asy’ari)
hijrah ke Keras (daerah sebelah selatan Jombang), dan mendirikan pesantren
Keras di tempat itu.
Menginjak usia 13 tahun, Hasyim Asy’ari sudah menguasai kitab-kitab Islam klasik dan diangkat
menjadi badal (asisten pengajar) di pondok pesantren milik ayahnya dan sudah berani menjadi guru dan mengajar santri yang tak jarang lebih
tua darinya.[6] Keberanian
Hasyim Asy’ari bukan tanpa alasan, sebab sejak kecil ia sudah di didik oleh
orang-orang yang berilmu dan setiap waktu ia berada pada lingkungan pendidikan
Islam, hal tersebut jelas memberikan pengaruh terhadap keilmuan dan kepribadian
juga mentalnya.
Apa yang di biasakan Hasyim Asy’ari sejak masa kecilnya terbawa ke masa
remajanya, yaitu gemar mempelajari ilmu agama Islam. Hingga pada usia 15 tahun,
ia memulai petualangan baru dalam menuntut ilmu agama dengan menjadi santri di
beberapa pesantren. Tercatat sekurang-kurangnya ada 5 (lima) pesantren yang ia
kunjungi yang berada di Jawa dan Madura.[7]
Perjalanannya untuk mencari ilmu (ṭalab al ‘ilmi) di mulai dari menjadi santri di pesantren Wonorejo Jombang, kemudian
singgah di pesantren Wonokoyo Probolinggo, dilanjutkan ke pesantren Langitan
Tuban dan pesantren Trenggilis Surabaya. Perjalanan Hasyim Asy’ari dalam
mencari ilmu tidak sampai di situ saja, ia melanjutkan ke pesantren Kademangan,
Bangkalan, Madura di bawah asuhan kiai Khalil (Bangkalan, Madura) yang dikenal
sangat alim, ia belajar di Madura selama kurang lebih lima tahun dengan
disiplin ilmu sastra arab, fiqh dan sufisme.[8]
Perpindahannya dari satu pesantren ke pesantren lain di latar belakangi
banyaknya berbagai disiplin ilmu yang menjadi karakteristik pesantren tertentu,
setiap pesantren memiliki spesialis ilmu tersendiri. Pesantren Termas di
Pacitan terkenal dengan ‘ilm al ‘alah (struktur dan tata bahasa arab
serta literatur arab dan logika), pesantren Bangkalan Madura terkenal dengan
ilmu tasawufnya, pesantren Jampes (Kediri) di kenal luas sebagai pesantren
tasawuf.[9]
Setelah lima tahun belajar di Bangkalan Madura, Hasyim Asy‟ari kembali
ke Jawa Timur dan melanjutkan belajar ke pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo di
bawah bimbingan kiai Ya’qub, untuk belajar fiqh selama 2 tahun.[10]
Pendidikan Hasyim Asy’ari
tidak berhenti di bumi kelahirannya saja, ia melanjutkan belajar ke negara
sumber ilmu keislaman, yaitu Makkah pada tahun 1893. Menuntut ilmu ke Makkah
merupakan dambaan setiap santri pada waktu itu, hal itu karena beberapa alasan
yaitu :
Pertama, Makkah merupakan tempat
lahirnya agama Islam dan pertemuan kaum muslimin disaat musim haji.
Kedua, di Makkah banyak terdapat
sejumlah ulama internasional, sebagian dari mereka ada yang berasal dari
Indonesia dan memiliki geneologi keilmuan yang tidak terputus dengan kiai-kiai
di pondok pesantren di Indonesia.
Ketiga,
Dalam penilaian masyarakat, bahwa seseorang yang memiliki pengalaman belajar
ilmu di Makkah, mereka akan mendapatkan pengakuan dan posisi terhormat di
masyarakat.[11]
Sewaktu menuntut ilmu di Makkah, Hasyim Asy’ari berjumpa dengan beberapa
tokoh yang selanjutnya di jadikan sebagai guru dalam berbagai disiplin ilmu
agama Islam. Diantara guru Hasyim Asy’ari yaitu syaikh Mahfudz al Tirmisi yang
berasal dari Tremas, Jawa Timur. Syaikh Mahfudh
at-Tarmisi adalah ulama Indonesia pertama dan ahli hadits yang mengajar Shahih
Bukhari di Makkah.[12]
Beliau adalah murid Syekh Nawawi Al-Bantany yang menjadi murid
Syekh Ahmad Khatib Syambasi (tokoh tasawuf yang berhasil menggabungkan tarikat
Qadariah dan tarikat Naqsabandiah). Hasyim Asy’ari belajar
banyak tentang hadits Shahih Bukhari dari syaikh Mahfudz al Tirmisi dan dari
gurunya inilah Hasyim Asy’ari mendapat ijazah untuk mengajar kitab Shahih
Bukhari. Selain belajar hadits, Hasyim Asy’ari juga belajar Thoriqot Qodiriyyah
wa Naqsabandiyyah kepada syaikh Mahfudz.[13]
Selain belajar hadits, untuk melengkapi pengetahuannya di bidang agama, Hasyim
Asy’ari juga belajar fiqh mazhab Syafi’i di bawah bimbingan syaikh Ahmad Khatib
al-Minangkabau, yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika
(ilmu hisab) dan al jabar (al-jabr).[14]
Hasyim Asy’ari juga berguru kepada sejumlah tokoh yang terkemuka di Makkah,
seperti syaikh Abdul Hamid al-Durustani, syeikh Muhammad Syuaib al Magribi,
syeikh Ahmad Amin al-Athor, sayyid Sultan bin Hasyim, sayyid Ahmad ibn Hasan
al-Atthar, syaikh Sayyid Yamani, sayyid Alawi ibn Ahmad al-Saqqaf, sayyid Abbas
Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawy, syaikh Saleh Bafadhal, dan syeikh Sultan
Hasyim Dagastani.[15]
Namun
dari sekian banyak gurunya itu, yang paling mempengaruhi jalan pikiran KH.
Hasyim Asy’ari adalah Syekh Mahfudh At-Tarmisi. Karena dari gurunya (Syekh
Mahfudh At-Tarmisi) inilah dia memperoleh ijazah tarikat Qadariah dan Naqsabandiah.
Kiai Hasyim belajar menuntut ilmu di Makkah selama kurang lebih tujuh tahun
lamanya dan pada tahun 1899 M, ia kembali pulang ke tanah air untuk mengamalkan
ilmu yang diperolehnya. Dan pada akhirnya Hasyim Asy’ari menguasai
berbagai macam ilmu seperti fiqih, hadis, tasawuf dan thariqat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah. Kemudian ia mendirikan pondok
Pesantren Tebu Ireng di Jombang pada 26 Rabiul Awal 1317 H/1899 M. Di pondok
pesantren inilah KH. Hasyim Asy’ari mengajarkan kitab-kitab klasik kepada
santrinya yang oleh kalangan NU dikenal dengan “kitab kuning”. Dari pesantren
ini pula kemudian banyak bermunculan kyai dan ulama terkemuka yang mewarnai
pemikiran Islam di Indonesia.[16]
Bersambung ....
Bersambung ....
[2] MQ. Al-madyuni,. Sang Kyai
Tiga Generasi KH. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahid Hasyim dan Gus Dur, (jombang: pustaka al-Khumul, 2013), hlm 3.
[3] Greg Barton, Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman
Wahid, (Yogyakarta: LKIS, 2002), hal. 26
[4] Abdurrahman
Mas’ud, Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi,
(Yogyakarta:LkiS,2004), hlm. 197
[5] Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama Biografi KH.Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta: LkiS,
2000), hlm.14
[8] Syamsul Kurniawan Dan
Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2011), Hlm. 205.
[11] Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh
Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 114-115.
[13] Imron Arifin, Kepemimpinan Kyai: Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng, (Malang:
Kalimasada Press, 1983), hal. 71.
[16] Ibid. Hlm. 72








0 comments:
Post a Comment