Thursday, November 15, 2018

KH. Hasyim Asy’ari : Perjalanan dan Karyanya


KH. Hasyim Asy’ari: Perjalanan dan Karyanya

 Referensi pihak ketiga

Biografi KH. Hasyim Asy’ari
1.   Nasab
Hasyim Asy‟ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim bin Asy‟ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim yang mendapat julukan Pangeran Bona bin Abdul Rahman yang mendapat julukan Jaka Tingkir, Sultan Hadi Wijaya bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fattah bin Maulana Ishaq dari Raden Ainul Yaqin yang terkenal dengan sebutan Sunan Giri.[1]
Berdasarkan silsilahnya, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin), KH. Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan yang jika dirunut akan sampai dengan Rasulullah SAW dengan urutannya sebagaimana berikut :
a. Sunan giri (Raden Ainul Yaqin)
b. Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
c. Abdul Halim (pangeran Benawa)
d. Abdurohman (pangeran samhud bagda)
e. Abdul Halim
f. Abdul Wahid
g. Abu Sarwan
h. KH. Asy’ari
i. KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)[2]
KH. Hasyim Asy’ari lahir di desa Gedang (Kecamatan Diwek),  sebuah desa yang berjarak sekitar dua kilometer sebelah timur Jombang, pada 24 Zulkaidah 1287 H/14 Februari 1871, dan wafat di Jombang pada Juli 1947.[3] Secara genealogi, KH. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan kyai atau lahir dari keluarga pesantren, dari kakek buyutnya, kakeknya juga ayahnya adalah adalah keluarga pesantren.
Asy’ari merupakan nama ayahnya yang berasal dari Demak dan juga pendiri pesantren keras di Jombang.[4] Sedangkan ibunya Halimah merupakan putri Kiai Usman pendiri dan pengasuh dari pesantren Gedang akhir abad ke-19 M. K.H Hasyim Asy’ari adalah anak ketiga dari sesepuh bersaudara yaitu Nafi’ah, Ahmad Sholeh, Radi’ah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Beliau merupakan seorang Kyai keturunan bangsawan Majapahit dan juga keturunan “elit” Jawa. Selain itu, moyangnya, Kiai Sihah adalah pendiri Pesantren tambak beras Jombang. Ia banyak menyerap ilmu agama dari lingkungan pesantren keluarganya. Adapun Ibu KH. Hasyim Asy’ari, merupakan anak pertama dari lima bersaudara, yaitu Muhammad, Leler, Fadil, dan nyonya Arif.[5]
2.   Pendidikan
Masa kecil Hasyim Asy’ari tidak jauh berbeda dengan layaknya anak-anak lainnya tumbuh dan berkembang, hanya saja yang membedakannya dengan usia anak-lainnya yaitu lingkungan dimana ia tumbuh. Ia tumbuh di lingkungan pesantren (Gedang) yang diasuh oleh kakeknya sendiri (kiai Usman). Beliau diasuh di pesantren tersebut selama kurang lebih antara usia 1 (satu) hingga 5 (lima) tahun. Pada tahun 1876 M bertepatan pada usianya yang ke 6 tahun, ia dibawa ayahnya (kiai Asy’ari) hijrah ke Keras (daerah sebelah selatan Jombang), dan mendirikan pesantren Keras di tempat itu.
Menginjak usia 13 tahun, Hasyim Asy’ari sudah menguasai kitab-kitab Islam klasik dan diangkat menjadi badal (asisten pengajar) di pondok pesantren milik ayahnya dan sudah berani menjadi guru dan mengajar santri yang tak jarang lebih tua darinya.[6] Keberanian Hasyim Asy’ari bukan tanpa alasan, sebab sejak kecil ia sudah di didik oleh orang-orang yang berilmu dan setiap waktu ia berada pada lingkungan pendidikan Islam, hal tersebut jelas memberikan pengaruh terhadap keilmuan dan kepribadian juga mentalnya.
Apa yang di biasakan Hasyim Asy’ari sejak masa kecilnya terbawa ke masa remajanya, yaitu gemar mempelajari ilmu agama Islam. Hingga pada usia 15 tahun, ia memulai petualangan baru dalam menuntut ilmu agama dengan menjadi santri di beberapa pesantren. Tercatat sekurang-kurangnya ada 5 (lima) pesantren yang ia kunjungi yang berada di Jawa dan Madura.[7] Perjalanannya untuk mencari ilmu (ṭalab al ‘ilmi) di mulai dari menjadi santri di pesantren Wonorejo Jombang, kemudian singgah di pesantren Wonokoyo Probolinggo, dilanjutkan ke pesantren Langitan Tuban dan pesantren Trenggilis Surabaya. Perjalanan Hasyim Asyari dalam mencari ilmu tidak sampai di situ saja, ia melanjutkan ke pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura di bawah asuhan kiai Khalil (Bangkalan, Madura) yang dikenal sangat alim, ia belajar di Madura selama kurang lebih lima tahun dengan disiplin ilmu sastra arab, fiqh dan sufisme.[8]
Perpindahannya dari satu pesantren ke pesantren lain di latar belakangi banyaknya berbagai disiplin ilmu yang menjadi karakteristik pesantren tertentu, setiap pesantren memiliki spesialis ilmu tersendiri. Pesantren Termas di Pacitan terkenal dengan ‘ilm al ‘alah (struktur dan tata bahasa arab serta literatur arab dan logika), pesantren Bangkalan Madura terkenal dengan ilmu tasawufnya, pesantren Jampes (Kediri) di kenal luas sebagai pesantren tasawuf.[9] Setelah lima tahun belajar di Bangkalan Madura, Hasyim Asyari kembali ke Jawa Timur dan melanjutkan belajar ke pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo di bawah bimbingan kiai Yaqub, untuk belajar fiqh selama 2 tahun.[10]
Pendidikan Hasyim Asy’ari tidak berhenti di bumi kelahirannya saja, ia melanjutkan belajar ke negara sumber ilmu keislaman, yaitu Makkah pada tahun 1893. Menuntut ilmu ke Makkah merupakan dambaan setiap santri pada waktu itu, hal itu karena beberapa alasan yaitu :
Pertama, Makkah merupakan tempat lahirnya agama Islam dan pertemuan kaum muslimin disaat musim haji.
Kedua, di Makkah banyak terdapat sejumlah ulama internasional, sebagian dari mereka ada yang berasal dari Indonesia dan memiliki geneologi keilmuan yang tidak terputus dengan kiai-kiai di pondok pesantren di Indonesia.
Ketiga, Dalam penilaian masyarakat, bahwa seseorang yang memiliki pengalaman belajar ilmu di Makkah, mereka akan mendapatkan pengakuan dan posisi terhormat di masyarakat.[11]
Sewaktu menuntut ilmu di Makkah, Hasyim Asy’ari berjumpa dengan beberapa tokoh yang selanjutnya di jadikan sebagai guru dalam berbagai disiplin ilmu agama Islam. Diantara guru Hasyim Asy’ari yaitu syaikh Mahfudz al Tirmisi yang berasal dari Tremas, Jawa Timur. Syaikh Mahfudh at-Tarmisi adalah ulama Indonesia pertama dan ahli hadits yang mengajar Shahih Bukhari di Makkah.[12] Beliau adalah murid Syekh Nawawi Al-Bantany yang menjadi murid Syekh Ahmad Khatib Syambasi (tokoh tasawuf yang berhasil menggabungkan tarikat Qadariah dan tarikat Naqsabandiah). Hasyim Asy’ari belajar banyak tentang hadits Shahih Bukhari dari syaikh Mahfudz al Tirmisi dan dari gurunya inilah Hasyim Asy’ari mendapat ijazah untuk mengajar kitab Shahih Bukhari. Selain belajar hadits, Hasyim Asy’ari juga belajar Thoriqot Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah kepada syaikh Mahfudz.[13]
Selain belajar hadits, untuk melengkapi pengetahuannya di bidang agama, Hasyim Asy’ari juga belajar fiqh mazhab Syafi’i di bawah bimbingan syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabau, yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu hisab) dan al jabar (al-jabr).[14]
Hasyim Asy’ari juga berguru kepada sejumlah tokoh yang terkemuka di Makkah, seperti syaikh Abdul Hamid al-Durustani, syeikh Muhammad Syuaib al Magribi, syeikh Ahmad Amin al-Athor, sayyid Sultan bin Hasyim, sayyid Ahmad ibn Hasan al-Atthar, syaikh Sayyid Yamani, sayyid Alawi ibn Ahmad al-Saqqaf, sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawy, syaikh Saleh Bafadhal, dan syeikh Sultan Hasyim Dagastani.[15] Namun dari sekian banyak gurunya itu, yang paling mempengaruhi jalan pikiran KH. Hasyim Asy’ari adalah Syekh Mahfudh At-Tarmisi. Karena dari gurunya (Syekh Mahfudh At-Tarmisi) inilah dia memperoleh ijazah tarikat Qadariah dan Naqsabandiah.
Kiai Hasyim belajar menuntut ilmu di Makkah selama kurang lebih tujuh tahun lamanya dan pada tahun 1899 M, ia kembali pulang ke tanah air untuk mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Dan pada akhirnya Hasyim Asyari menguasai berbagai macam ilmu seperti fiqih, hadis, tasawuf dan thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Kemudian ia mendirikan pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang pada 26 Rabiul Awal 1317 H/1899 M. Di pondok pesantren inilah KH. Hasyim Asy’ari mengajarkan kitab-kitab klasik kepada santrinya yang oleh kalangan NU dikenal dengan “kitab kuning”. Dari pesantren ini pula kemudian banyak bermunculan kyai dan ulama terkemuka yang mewarnai pemikiran Islam di Indonesia.[16]

Bersambung ....




[1] Hasyim Asyari , Adāb al ‘Ᾱlim wa al Muta’allim..., hlm. 3. 
[2] MQ. Al-madyuni,. Sang Kyai Tiga Generasi KH. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahid Hasyim dan Gus Dur, (jombang: pustaka al-Khumul, 2013), hlm 3. 
[3] Greg Barton, Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LKIS, 2002), hal. 26
[4] Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi, (Yogyakarta:LkiS,2004), hlm. 197
[5] Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama Biografi KH.Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta: LkiS, 2000), hlm.14
[6] Ibid hlm. 16  
[7] Ibid hlm. 16 
[8] Syamsul Kurniawan Dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), Hlm. 205.  
[9] Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramain Ke Nusantara ..., hlm. 230.  
[10] Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama ..., hlm. 23  
[11] Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 114-115.  
[12] Lathiful Khuluq, Ibid. hlm. 24  
[13] Imron Arifin, Kepemimpinan Kyai: Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng, (Malang: Kalimasada Press, 1983), hal. 71.
[14] Lathiful Khuluq, Ibid. hlm. 26.  
[15] Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan ..., hlm. 116.  
[16] Ibid. Hlm. 72

Share:

0 comments:

Post a Comment

Support

Flag Counter