ASWAJA Menurut NU

KH. Hasyim Asy’ari merupakan simbol ulama besar yang berpengaruh di Jawa Timur bahkan di Nusantara. - umatnahdhiyyin.blogspot.com.

KH. Hasyim Asy'ari : Perjalanan Dan Karyanya

KH. Hayim Asy'ari merupakan tokoh besar umat Nahdhiyyin. Lahir dan tumbuh di keluarga pesantren.

Kekuatan Penyeimbang Itu Bernama NU

NU telah menjadi kekuatan penyeimbang antara Bung Karno dengan Republiknya dan SM KArtosuwiryo dengan Darul Islamnya - Premiumbloggertemplates.com.

Hukum Mengubur Jenazah Korban Bencana

Berikut merupakan pandangan ulama' mengenai hukum memakamkan jenazah pada korban bencana alam - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, March 24, 2019

Abbas dan Sang Kiai Hadratussyaikh Khalil Bangkalan

Suatu ketika ada seorang anak kecil kira² berumur 9 tahun pergi nyantri ke Hadratussyekh KH. Kholil Bangkalan Madura.
Melihat keadaan bocah kecil ini Kyai Kholil tidak langsung mengajar ngaji karena khawatir tidak kerasan. Sambil menunggu si bocah merasa betah, Kyai Kholil memberi tugas pada si santri kecil ini untuk membersihkan daun mangga yang jatuh dari pohonnya di depan ndalem Kyai Kholil.

Si bocah ini menjalankan perintah gurunya dengan senang hati.
Pada suatu malam turunlah hujan begitu lebat, Kyai Kholil keluar dan duduk di teras rumah. Dilihatnya ada seorang anak yang tetap berhujan-hujanan di bawah pohon mangga menjaga daun mangga yang jatuh ke tanah untuk langsung dibersihkan.
Seketika itu Kyai Kholil memanggil anak tersebut, betapa kagetnya Kyai Kholil ternyata dia adalah anak kecil yang diberi tugas membersihkan daun mangga bila ada yang jatuh dari pohonnya itu.

Melihat kejadian tersebut Kyai Kholil berkata kepada si kecil yang bernama Abbas itu,
"Wahai Abbas sekalipun engkau masih kecil belia tapi engkau memiliki ketaatan sungguh² kepada guru. Oleh karena itu cukup untuk kamu ngaji di sini sekarang."
Kyai Kholil bertakbir keras, "Allâhu Akbar... Allâhumma sholli 'alâ Sayyidinâ Muhammad. Pulang...!! Mengajar...!! Ilmunya ditanggung Kholil...!!"
Seketika itu pula Kyai Kholil meminta Abbas kecil menengadah ke langit dengan membuka mulut dan Kyai Kholil meludahi mulut Abbas kecil, maka pulanglah Abbas kecil dengan derai air mata karena tak kuasa meninggalkan guru yang dicintai dengan amanah yang dibanggakannya.

Subhânallah... Jadilah Abbas seorang kyai besar berpengaruh di Banyuwangi dengan santri yang luar biasa hingga sekarang.
'Mencari ridlo Guru' itulah rahasia besar kesuksesan ulama terdahulu, yang makin terlupakan sekarang.
Di samping keikhlasan sang guru itu sendiri tentunya yang juga makin jarang kita temukan sekarang.
Share:

Thursday, March 14, 2019

HOAX DALAM SEJARAH ISLAM

Referensi pihak ketiga

Dalam sejarah Islam, hoax mulai berkembang sejak tahun 41 H. Pra, 1 sampai tahun 41 hijriyah menurut para ulama disebut العصر التي نقئ فيها الشريعة, era kesucian syariat. Tentu masih bisa kita teliti akurasi tahunnya.

Namun para ulama sepakat, pemicu utama hoax pada abad awal hijriyah adalah peristiwa politik. Apa definisi hoax? Menurut ulama hoax adalah المكذوب المختلق المصنوع, dusta yang sengaja dibuat, diciptakan.

Hoax pertama isinya black champaign, antara pendukung dua tokoh. Irak mendukung Imam Ali, oknum-oknumnya membuat hoax, berupa hadis palsu seakan-akan Rasulullah saw mengecam kepada Muawiyah. Sebaliknya pendukung Muawiyah di Syam menyebar hoax tentang kecaman Rasulullah saw kepada penduduk Irak.

Setelah Muawiyah berkuasa, semakin masif. Hoax yang berisi sanjungan kepada Muawiyah, dan kecaman kepada Imam Ali. Misalnya ada hoax seperti ini,

ألأمناء عند الله ثلاثة : أنا وجبريل ومعاوية.
Rasulullah saw bersabda, "Kepercayaan Allah (dibumi) ada tiga, Aku, Jibril dan Muawiyah."

Pujian-pujian yang menyanjung Muawiyah  bertebaran, jumlahnya banyak sekali. Sementara serangan terhadap Imam Ali, persis seperti pembunuhan karakter yang dilakukan Orde Baru terhadap Soekarno.

Bahkan lebih keji, Imam Ali dikutuk tiap khutbah Jumat selama puluhan tahun, dan peninggalan intelektualnya dibakar dibabad habis. Murid-muridnya seperti Muhammad bin Abu Bakar Shidiq dibunuh. Dibakar hidup-hidup didalam perut unta.

Kita lebih mengenal fikih Umar yang hidup 4 tahun pasca wafatnya Rasulullah saw, atau riwayat-riwayatnya Abu Hurairah yang menyertai Rasulullah saw 3 tahun. Daripada Imam Ali yang hidup bersama Nabi saw puluhan tahun, dan hidup 3 dekade lebih setelah Rasulullah saw wafat. Soal ini, bisa dilihat lebih lengkap dalam kitab Ghayatu Tabjil.

Salah satu ulama yang menentang keras Hoax yang mengunggulkan Muawiyah dan merendahkan yang lain adalah Imam Nasa'i Rahimahulllah. Ketika beliau ke Damaskus ibukota Imperium yang dipimpin Muawiyah, beliau ditanya tentang hadis Nabi saw yang mengisahkan keutamaan Muawiyah.

Imam Nasa'i menjawab, " saya tidak menemukan keutamaan Muawiyah selain hadis; لا اشبع الله بطنك

Yaitu hadis riwayat Imam Muslim, yang mengisahkan Rasulullah saw menyuruh Sahabat Ibnu Abbas yang masih kecil, sedang bermain dengan kawan-kawannya, untuk memanggil Muawiyah. Dua kali di panggil, Ibn Abas melaporkan pada Rasulullah, هو يأكل, Muawiyah sedang makan.

Setelah dua kali dipanggil selalu sedang makan, Rasulullah saw dawuh, لا اشبع الله بطنك
Allah tidak akan membuat perutmu kenyang.

Mendengar Imam Nasai menyitir hadis Muslim tersebut, pendukung Muawiyah mempersekusi Imam Nasa'i sampai wafat. Maulana Habib Luthfi sering bercerita penyiksaan yang dialami Imam Nasai ini. Tapi saya baru menemukan langsung teksnya;

وذهب النسائ صاحب السنن الى دمشق فسالوه عن معاوي وما روي فى فضائله الى ان قال فما زالوا يدفعون فى حضنه وداسوه حتى حمل الى الرملة ومات هناك.

Kata Ibn Khaldun, dalam muqadimahnya, Bangsa Arab tanpa politisasi Agama, atau berpolitik tanpa agama akan mandul, karena tribalisme kesukuan mereka yang kuat. Ego qaba'il ini hanya bisa cair dengan bumbu agama.

Politik semacam ini berbahaya jika digunakan di negara kita, yang memiliki 17000 pulau, ribuan suku, atusan bahasa, beragam budaya.

Ahmad Tsauri
Pekalongan, 12 Maret 2019
Share:

Monday, March 11, 2019

HABIB LUTHFI BIN YAHYA Tentang NU




HABIB LUTHFI BIN YAHYA Referensi pihak ketiga

Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU. Padahal negara muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun.

Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Tragisnya, bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU.

Tidak dipungkiri gagasan “Islam Nusantara” bisa menjadi magnet besar dalam membangun besarnya kekuatan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan oleh media-media pembenci NU, itu dijadikan lahan untuk menghancurkan NU dari dalam seolah-olah NU telah diboncengi oleh Liberal, Syiah, dan Wahabi. Padahal telah jelas dan disepakati oleh ribuan ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren serta majelis ta’lim di seluruh Indonesia bahwa tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang adalah “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin.

Cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia dan negara-negara muslim yang menjadi sasaran konflik antarumat Islam karena tidak adanya persatuan diantara mereka.

Kita tidak menginginkan Indonesia seperti mereka, berapa juta umat Islam yang mati mengenaskan akibat konflik di negara-negara tersebut ?

Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita walisongo. Islam nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab.

Saat ini istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya.

Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.
Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasuth (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik.

Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun.

Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Syuriah PBNU Pusat menjelaskan, “Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

Beliau melanjutkan, “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik,. Kalau saja wali songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini”.

Beliau berpesan bahwa inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini, itulah mengapa dalam setiap ceramah beliau akhir-akhir ini sering membahas tentang upaya mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.

Indonesia itu menurut beliau, tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia, “Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk".

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.

“Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkrit. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.

Rais Am Syuriah PBNU Pusat Dr. HC. KH. Ahmad Musthofa Bisri menjelaskan, “Kalau Islam diidentikkan dengan Arab, Abu Jahal juga orang Arab, dia memakai sorban dan jubah. tentu ketika kita memakai jubah dan sorban semata mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bukan mengikuti budaya Arab".

Lebih lanjut Mustasyar PBNU Pusat Syaikhuna wa Murobbi Rukhina KH. Maimun Zubair menjelaskan. “Bangsa Arab itu mulia karena adanya Islam, maka Indonesia pun akan mulia dengan adanya Islam”.

Saat ini negara-negara Muslim di dunia sedang melirik Islam di Indonesia, mereka manyatakan diri perlu belajar banyak dari Indonesia, bagaimana bisa negara besar dengan berbagai suku, agama, ras, adat istiadat bisa damai dan tentram tanpa ada konflik horizontal berkepanjangan ?

Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman.


Share:

Support

Flag Counter